Wednesday, February 20, 2008

Awal sebuah jawaban benar adalah ...

Kemarin teman saya ujug-ujug ngasih satu soal rumit begini (jadi ingat soal matematika cerita jaman SMA dulu);

Soal cerita:
Ada 3 orang cowok jalan-jalan dan kemudian memutuskan untuk bermalam di satu hotel. Hotel murah. Tarifnya Rp. 30.000 rupiah per malam. Akhirnya ketiganya sepakat patungan masing-masing 10 ribu rupiah. Ternyata, nasib mereka sedang mujur. Mereka dapat diskon Rp. 5.000. Uang diskon itu langsung diberikan kepada mereka melalui room boy. Mereka memutuskan memberi tip buat room boy itu Rp. 2.000. Sementara sisanya dbagi rata; Rp 1.000.
Nah begini ceritanya; Ingat-ingat kan kalau mereka patungan Rp. 10.000? Nah karena diskonnya dikembalikan ke mereka masing-masing Rp. 1.000, berarti mereka cuma bayar Rp. 9.000. Sedangkan si room boy dapat Rp. 2.000. Nah anehnya gini;
Rp. 9.000 X 3 orang =Rp.27.000
Rp. 27.000 + Rp. 2.000 (dikasih ke room boy) = Rp. 29.000
Lho koq? Kalau uang awal mereka bersama adalah Rp. 30.000, koq sekarang cuma Rp. 27.000. Kemana seribu rupiah lagi lenyapnya?

Coba pikirkan dulu jawabannya…

Coba terus… Saya juga penasaran sekali dengan soal ini.

Coba dulu jawab…jangan nyontek kunci jawabannya dong…

Baca lagi soalnya. Saya juga perlu beberapa kali kembali ke soal untuk menemukan jawabannya.

Sudah? Sudah ketemu jawabannya? Yakin? Sudah ketemu seribu peraknya lari kemana?

Tolong baca kunci jawaban saya setelah Anda benar-benar berusaha menjawabnya….janji yah….

Kunci jawaban:
Jawaban atas soal di atas adalah; emang gw pikirin. Beneran lho. Memang jawabannya; emang gw pikirin. Kenapa? Karena soal di atas memang memberi pertanyaan menipu. Kita digiring seolah-olah uangnya masih ada pada ketiga pemuda itu. Padahal uang Rp. 25.000 (setelah dipotong diskon Rp. 5000) sebenarnya sudah berpindah ke kasir hotel. Alias, uang ketiga pemuda itu dalam transaksi tersebut (selain yang di dompet tentunya) adalah masing-masing dapat; Rp. 1.000. Kalaupun uang mereka dijumlahkan dengan uang yang dikasih ke si room boy, maka jumlahnya adalah Rp. 5.000. Dan kalau angka itu dijumlahkan dengan uang yang masuk ke kasir, maka jumlahnya adalah tepat seperti uang patungan ketiga pemuda tadi….Rp.30.000.

Moral of the story? Seringkali, kita menerima suatu masalah atau pertanyaan begitu saja. Tanpa diolah, langsung ditelan. Kalau meminjam istilah teman saya Diki Satya; (maaf sebelumnya) makan nasi beraknya juga nasi. Harusnya kan nggak.

Saat menghadapi satu masalah, saat membantu brand-brand dari klien kita, saat kita menghadapi satu brief untuk suatu kampanye iklan, kita sering melupakan satu langkah penting dan terpenting; BERTANYA. Ya, bertanya. Bukan sekedar bertanya. Bukan asal bertanya tentunya. Tapi, BERTANYA DENGAN BENAR. Karena hanya dari PERTANYAAN YANG BENAR akan terlahir JAWABAN YANG BENAR.

Tuesday, February 12, 2008

Hati-hati dengan singkatan!

Photobucket

Coba deh perhatikan...ada yang ingat gak ini logo apa? Betul! Jadi ingat lagu; naik kereta api tut tut tut ... siapa hendak naik? Nah sekarang, lihat lagi...ada yang salah gak dengan logo ini? Betul lagi, namanya! Ada yang tau kenapa tidak ditulis 'kereta api'? Karena hasil browsing ternyata di Malaysia juga disingkat seperti ini. Logo ini ada dimana-mana lho. Terakhir saya lihat logo ini di sebuah neon box di Stasiun Bogor. Waktu saya lihat logo ini malam itu di Bogor saya jadi teringat apa yang saya lihat beberapa tahun lalu. Enam atau tujuh tahun lalu, saat saya mampir di Stasiun Solo Balapan. Waktu itu beberapa petugas memakai kaos bertuliskan; Keretapi Indonesia. Dengan sistem baca saya yang kadang pakai aksen Batak, maka yang terbaca seolah menjadi...Kere Tapi Indonesia. Hehehehe memang orang Indonesia hebat. Tetap bangga akan apa yang dimilikinya. Kere koq bangga yah?

Balik ke pertanyaan saya di awal; sebenarnya memang Keretapi atau Kereta Api? Dan kalau disingkat Keretapi darimana yah asal-usulnya?