Wednesday, May 07, 2008

Kata, Kebenaran dan Kontak















Tanpa pikir panjang, tolong jawab pertanyaan saya dengan cepat. Tolong berjanji untuk tidak berpikir terlalu lama. Ok? Siap? Jangan baca bahasannya dulu. Cobalah menjawab dulu. Ini bukan soal benar atau salah koq. Silakan…


“Anda ikut dalam sebuah lomba lari. Anda menyalip orang di posisi nomor dua. Sekarang Anda ada di posisi berapa?”



Coba cek jawaban Anda. Jika Anda menjawab NOMOR SATU, Anda SALAH BESAR! Tidak percaya? Coba baca lagi jawabannya, cobalah simulasikan. Jika Anda menyalip orang nomor dua, sekarang Andalah yang ada di posisi NOMOR DUA! Itulah yang sering terjadi pada kita. Kita terjebak kata. Kita terjebak permainan kata.



Saya telah menulis dan Anda sedang membaca. Saya menulis apa yang saya rasa dan saya pikir menjadi KATA. Anda membaca apa yang tersurat dan tersirat dalam bahasa kata yang Anda kenal. Semua ini adalah dunia kata-kata. Kalaupun apa yang saya katakan benar, kebenaran kata-kata saya hanyalah kebenaran kata-kata. Apakah dia merupakan kebenaran sejati? Anda tidak bisa tahu atau Anda tak mau tahu. Saya? Saya juga tak mau tahu apakah ada kebenaran sejati dalam kata-kata saya. Lihatlah, rasakanlah, betapa mudahnya saya terjerembab dalam permainan kata. Permainan kebenaran kata.



Tapi, dalam hal kebenaran saya percaya bahwa kebenaran sejati itu tidak tergantung pada siapa yang mengatakannya sebagai benar. Kebenaran sejati tidak tergantung pada seberapa banyak orang yang menganggapnya benar. Kebenaran sejati tidak akan jatuh dalam kehinaan meski seluruh dunia mencaci maki dan menistakannya. Kebenaran sejati secara lahir dan batiinya telah menyandang kebesarannya sendiri.



Dulu, satu dunia menista Galileo Galilei. Dia dicap salah serta sesat karena tidak menempatkan Matahari sebagai pusat tata surya. Maklum dunia yang validitas kebenarannya ditentukan oleh gereja saat itu masih percaya pada paham Bumi-sentris alias seluruh semesta berporos pada Bumi. Dia bahkan dikucilkan dari komunitas keagamaan setelah disidang pada Juli 1633. Apakah Galileo memegang kebenaran? Mungkin juga dia saat itu tidak tahu. Mungkin juga kaum gereja yang melaknatnya tidak tahu. “Kebenaran saat ini bukanlah berarti kebenaran saat nanti. Kebenaran bukanlah kenyataan”, begitu kata lirik salah satu lagu band Dewa. Tapi yang pasti, kenyataanlah yang kita terima sebagai kebenaran yang nyata.



Tidak penting apakah Galileo kemudian terbukti benar dengan pemikirannya (dan baru setelah berabad-abad gereja mengakui dan merehabilitasi nama Galileo). Tidak terlalu penting juga kalau kemudian dunia menjulukinya bukan saja sebagai Bapak Astronomi Modern dan Bapak Fisika Modern, tapi bahkan sebagai Bapak Sains. Saking pentingnya Galileo, Michael H. Hart memasukkannya sebagai salah satu orang dari seratus orang terpenting dalam bukunya (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah”. Yang pasti, bumi memang terbukti sebagai sesuatu yang berbentuk bulat.



Kebenaran adalah kata yang benar-benar menakutkan. Begitu kata itu terucap, maka lawannya dalam samar maupun tegas akan muncul atau dihadirkan. Kebenaran dan kesesatan. Dulu waktu masih anak ingusan, saya senang sekali mendengar kotbah kesaksian tentang seorang muslim yang pindah menjad Kristen. Menjadi Kristen saat itu, buat saya, adalah kebenaran yang membebaskan orang dari kesesatan. Sampai akhirnya saya ‘dibagunkan’ dan menyadari betapa sia-sianya kepercayaan saya itu. Betapa sia-sianya rasa senang saya mengetahui orang seseorang yang pindah ke keyakinan saya. Sejak saat itu mau satu dunia ini pindah agama ke mana pun saya tidak peduli.



Kebenaran itu, lucunya, bisa sangat menakutkan karena justru ada segelintir orang yang merasa diri berhak menjadi penentu apa yang disebut ‘kebenaran’ dan mana yang dicap ‘kesesatan’. Mengapa? Karena mereka juga berbicara dalam kebenaran sebagai kebenaran kata-kata. Bisa jadi mereka benar-benar BENAR. Tapi apa peduli saya, karena toh mereka bisa saja “nanti” terbukti benar-benar SALAH. Ada dimensi waktu di sini dan dia bernama ‘nanti’.



Menarik menyimak dialog dari film yang saya suka; Contact. Film dari buku Carl Sagan arahan Robert Zemeckis dan dibintanyi oleh Jodie Foster dan Matthew McConaughey ini dalam ceritanya menyuguhkan dialog antara pendeta Palmer Joss (diperankan Matthew McConaughey) dan ilmuwan Dr. Eleanor Ann Arroway (atau Ellie yang diperankan Jodie Foster). Sebagai ilmuwan Ellie menuntut pembuktian atas suatu klaim (bahkan yang tidak ilmiah sekalipun). Tapi ada hal-hal yang pembuktiannya sulit mengikuti pola pembuktian ilmiah. Kita tidak bisa menunjukkan buktinya dan bagaimana pembuktiannya, tapi kita yakin kita punya buktinya.



Palmer Joss: Did you love your father?

Dr. Eleanor: What?

Palmer Joss: Your dad. Did you love him?

Dr. Eleanor: Yes, very much.

Palmer Joss: Prove it.




Potongan dialog ini saya kutip bukan untuk mengatakan bahwa dalam hal keagamaan atau religi kebenaran memang punya wajah yang berbeda dengan hal-hal yang fisikal, dunia dan profan. Tapi, dialog ini menarik untuk menunjukkan bahwa kebenaran sejati (seperti unconditional love anak pada bapaknya atau sebaliknya) tidak bisa dibuktikan dengan KATA. Dalam hal-hal tertentu memang kita harus relakan biarlah waktu yang menjadi penentu ‘benar’ atau ‘tidak’-nya sesuatu. Itupun kalau penting sekali hal itu dibuktikan kebenarannya.



Kata berguna untuk mengantar kita pada kesamaan identifikasi, seperti dalam hal kata ‘hijau’ untuk menunjuk pada suatu warna yang kemudian disepakati sebagai ‘hijau’. Kita bisa sama sepakatnya kalau kita sama-sama punya mata yang sehat. Kita bisa sepakat bahwa ‘Hijau’ adalah Hijau. Tapi bagaimana dengan yang buta warna? Atau bahkan, bagaimana dengan yang buta total sama sekali. Dalam hal sepele seperti ini saja terlihat kelemahan dari kekuatan KATA.



Saya dibesarkan dalam tradisi Kristen dari suku Batak Toba yang cukup kental. Namun ketika putri saya yang berumur 5 tahun lebih bertanya tentang perkara-perkara agama dan Tuhan, saya memilih berhati-hati dalam menjawabnya. Saya lebih memilih diam ketimbang berusaha menjawab secara kristiani. “Mengapa Tuhan tidak turun dari surga ke dunia saja?”, “Bagaimana Tuhan tahu tentang segala sesuatu?”, “Bagaimana orang mati kembali ke Tuhan?”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya sungguh-sungguh menunjukkan rasa ingin tahunya yang besar. Saya tak mau menjawabnya dengan terburu-buru. Bisa saja saya jawab sekenanya, atau saya jawab berdasarkan pengetahuan yang saya terima dari keluarga, sekolah atau gereja. Tapi, apakah itu jawaban yang terbaik?



Saya tidak ingin putri saya menjadi dogmatis nantinya. Saya sudah banyak melihat anak-anak yang masih kecil-kecil tapi bicara dalam bahasa orang dewasa tentang perkara agama dan ketuhanan. Saya sudah lihat di film dokumentasi bagaimana sikap dogmatis yang keterlaluan dari kaum Taliban di Afganistan telah menghancurkan peninggalan-peninggalan sejarah peradaban Buddhisme yang pernah mewarnai wilayah Afganistan. Tak satu pun patung utuh sang Buddha yang tersisa di sana.



Kembali ke Galileo, keistimewaan dan keteladannya sebagai ilmuwan adalah pada sikap ingin tahunya yang besar. Ia tidak menerima begitu saja satu dalil yang kadung diterima sebagai kebenaran tanpa membuktikannya sendiri. Misalnya, tentang dalil Aristoteles yang mengatakan bahwa benda yang lebih berat jatuh lebih cepat dibanting benda yang lebih enteng. Galileo memutuskan menguji langsung dalil yang ditelan mentah-mentah oleh para ilmuwan selama berabad-abad. Bayangkan selama beradad-abad. Ternyata setelah membuktikan sendiri dengan menjatuhkan benda-benda berbeda dari Menara Pisa, Galileo sampai pada kesimpulan yang kini diterima sebagai dalil oleh semua ilmuwan. Kesimpulan percobaanya adalah, baik benda berat maupun ringan akan jatuh pada kecepatan yang sama. Pengecualian pada dalil itu adalah sampai batas benda-benda itu berkurang kecepatannya akibat terjadinya pergeseran udara. Terasa sekali Galileo secara sungguh-sungguh melakukan kontak dengan kenyataan. Bisa jadi Galileo telah mengalami kontak dengan Kebenaran Sejati dalam pencarian ilmiahnya. Siapa tahu?


Sejujurnya, kegelisahan saya yang pastilah terasa dalam tulisan yang panjang ini dikarenakan suatu kenyataan menyesakkan yang ada di depan mata saya. Belakangan dalam kehidupan kita sebagai bangsa, kita sedang menyaksikan rekan dan saudara sebangsa kita dari kelompok Ahmadiah sedang dianiaya atas nama kebenaran. Dengan atas nama kebenaran, mereka dicap sesat dan secara jelas dan nyata dianiaya, dibakar rumah dan mesjidnya. “Kebenaran bukanlah kenyataan”, begitu kata lirik Dewa yang saya kutip di atas. Kebenarannya apakah Ahmadiah secara hakiki sesat atau tidak bukanlah kenyataan. Dibuktikan dengan dalil seperti apapun, dengan ayat manapun atau dengan argumentasi bagaimanapun, kebenarannya tidak pernah menjadi sesuatu yang sejati. Betapa menyedihkan. Tidakkah kita sadari, kita sedang menzalimi saudara kita sendiri di rumah kita sendiri. Mereka dizalimi atas dasar apakah? Kata? Kebenaran?

2 comments:

Anonymous said...

Blognya Menarik. akan saya tunggu updates berikutnya.
Salam kenal.

Arifin Dwi Slamet said...

Apakah kebenaran? Renungkan kisah analogi berikut ini. Dua orang darwis (murid tasawuf) berdebat soal kedekatan dengan Tuhan. Darwis I bilang, "Kalau mau dekat dengan Tuhan, kita harus berupaya keras." Darwis II membantah dan mengatakan, "Kalau mau dekat dengan Tuhan, kita cukup berserah diri." Di penghujung hari, keduanya menghadap ke syekh mursyid mereka yang didampingi seorang darwis muda. "Syekh, menurut saya kalau mau dekat dengan Tuhan kita harus berupaya keras," kata Darwis I.

"Ya, kamu benar," jawab syekh.

"Tapi menurut saya," kata Darwis II, "cukup berserah diri saja, Syekh."

"Ya, kamu benar," jawab syekh.

"Tapi... tapi, tidak mungkin keduanya benar, kan, syekh?" ujar darwis muda.

Si syekh menoleh kepadanya dan berkata sambil tersenyum, "Ya, kamu pun benar!"